(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "Filsafat"

FILSAFAT INDIA 



A. 
B. 

C. 
D. 



5. Kun 

E. BEBEf 
1. Car 



•f. /VJraya UU II 

5. Sankhya di 

6. Purva Mim, 

7. Uttara Mim 

8. Pasupata, . 

F. KONSEP KES 



iLSAFAT 
2000 SM 



A. PENDAHULUAN 



India, khususnya Lembah Indus, merupakan tempat lahirnya peradaban 
dunia yang tertua. Zaman perunggu muncul di sana sekitar tahun 2500 SM. 
Penggalian arkeologi menunjukkan peninggalan-peninggalan yang menyingkap 
peran lembah Indus sebagai pusat kebudayaan besar. Dari peninggalan- 
peninggalan diketahui bahwa tidak terdapat gejolak perkembangan yang terlalu 
hebat. Lembah Indus merupakan kawasan yang subur. 

Antara tahun 1700 hingga 1400 SM terjadi gelombang migrasi bangsa 
Arya yang memasuki India lewat pegunungan Hindu Kush di utara. Mereka 
kemudian menduduki lembah-lembah subur di daerah percabangan sungai In- 
dus. Suku Arya dikenal sebagai suku bangsa yang gemar berperang. Mereka 
menemukan kuda dan kereta untuk perang. Itulah sebabnya mereka dengan 
mudah mengalahkan musuh-musuhnya. Mereka kemudian mengalami 



24 



transformasi, dari masyarakat nomad menjadi masyarakat petani yang menetap. 
Kehadiran mereka lama-lama mendesak penduduk asli, yakni suku Dravida, ke 
arah selatan. Konflik bangsa Arya dan Dravida terekam dalam epos Mahabrata 
dan Ramayana. 

Dalam perkembangan selanjutnya, terciptalah sistem kelas. Para kepala 
suku bertanggungjawab meneruskan perjuangan melawan suku asli. Kemudian 
muncul kelas imam, ketika Brahmanisme, dengan ritualismenya, menjadi 
semakin penting. Bersama itu pula berkembang tradisi lisan, yang -kemudian 
dikumpulkan dan kita kenal sebagai Veda. (Sandiwan S.Brata: 19-21) 

Filsafat Yunani, seperti halnya kegiatan berfilsafat itu sendiri, bertolak dari 
kenyataan yang dialami sehari-hari. Tapi sebagai sistem pemikiran, kedua filsafat 
itu berbeda. Orang Yunani dan India sama-sama berfilsafat untuk mencari 
kebenaran. Tapi ada perbedaannya. Orang Yunani mencari kebenaran sebagai 
kebenaran, sedangkan orang India mencari kebenaran untuk melepaskan diri 
dari dunia. (Poedjawijatna: 54-55) 

B. CIRI-CIRI FILSAFAT INDIA 

Profesor Radhakrishnan memberikan tujuh ciri untuk seluruh sistem filsafat 
India, yakni: 

1. Motif spiritual: ini mendasari seluruh sistem filsafat India maupun 
kehidupan masyarakat. Kecuali aliran Carvaka, semua aliran lain mengakui 
esensi spiritual. Itulah sebabnya, penghayatan agama sangat erat kaitannya 
dengan usaha filosofis filsafat India. 

2. Sikap introspektif dan pendekatan introspektif terhadap realitas. Filsafat 
dipahami sebagai atmavidya, yakni pengetahuan akan diri. Oleh sebab itu, 
yang menonjol adalah subyektivitas. Itulah pula sebabnya, psikologi dan 
etika dianggap lebih penting daripada ilmu pengetahuan alam atau ilmu 
pengetahuan positif yang juga tetap digeluti. 

3. Mengakui hubungan erat antara hidup dan filsafat. Filsafat tidak 
dianggap sebagai sekedar sport otak, tapi merupakan usaha mencari 
kebenaran yang dapat membebaskan manusia. Ini suatu bentuk pragmatisme, 
tapi bukan berarti bahwa kebenaran diukur menurut kepraktisannya, tapi 
kebenaran itu diakui sebagai satu-satunya petunjuk untuk praksis kehidupan. 

Menurut paham filsafat India, kebenaran membawa keselamatan. 
Keselamatan berarti bebas dari penderitaan, kelahiran kembali, atau 



25 



kebahagiaan abadi. Itu terwujud manakala jiwa mencapai kemurnian semula, 
atau bila terjadi identifikasi dengan yang absolut, persatuan dengan Tuhan, 
atau bila jiwa mencapai eksistensi abadinya. 

4. Idealis: Filsafat India, khususnya Hinduisme, mengarah kepada monisme 
ideal. Apa yang kelihatan sebagai pluralisme dan kontradiktoris sebetulnya 
merupakan bentuk-bentuk ekspresi, tapi semuanya itu menyembul dari 
keyakinan dasar yang satu yang mempersatukan semua sistem filsafat In- 
dia secara keseluruhan. 

5. Memberikan peran sentral terhadap intuisi. Hanya intuisi mampu 
menyingkap kebenaran tertinggi. Tidak berarti bahwa peran akal ditolak. 
Pengetahuan intelektual dianggap tidak mencukupi. Oleh sebab itu kata 
yang tepat untuk filsafat adalah darsana, berasal dari kata drs yang berarti 
melihat, mengalami secara intuitif. Akal mampu menunjukkan kebenaran, 
tapi akal itu sendiri tak mampu mencapainya. 

6. Mengakui otoritas. Para filsuf India selalu memperhitungkan tradisi seperti 
yang diajarkan para guru Upanishad, Budha, atau Mahavira. Ini berpengaruh 
pada metode filsafat India yang dimulai dengan stravana (mendengarkan). 

7. Tendensi untuk mendekati berbagai aspek pengalaman dan realitas 
dengan pendekatan sintesis. Ciri ini sama tuanya dengan Rg Veda yang 
beranggapan bahwa agama yang benar akan mencakup semua agama. Tuhan 
itu, menurut mereka, satu, hanya disebut oleh manusia dengan banyak 
nama. Agama dan filsafat, pengetahuan dan tindakan, intuisi dan pemikiran, 
Tuhan dan manusia, diletakkan dalam harmoni. Ciri sintesis ini 
menyebabkan semua sistem dapat hidup dalam harmoni dan toleransi. Itulah 
sebabnya pula, filsafat tak dapat dipisahkan dari agama. (Sandiwan S. Brata: 
17-18; Sastrapratedja: 1) 

C. METODE FILSAFAT INDIA 

Proses berfilsafat India umumnya mengikuti langkah-langkah berikut: 

1 . Sravana (mendengarkan): mendengarkan ajaran-ajaran benar dari teks-teks 
Kitab Suci agar dapat menangkap pengertiannya secara penuh. 

2. Manana (perbincangan/penalaran): diskusi tentang isi teks yang didengar 
tadi. 

3. Nididhyasana: duduk dalam sikap meditasi dengan konsentrasi pikiran pada 
ajaran yang didengarkan itu. Dengan sikap meditasi, pikiran dibebaskan 

26 



dari keraguan. Pikiran menjadi terbuka untuk diresapi dan diterangi oleh 
kebenaran ajaran itu. 

Ketiga langkah ini menyebabkan bahwa di India filsafat bukan suatu yang 
hanya teoretis, tapi menjadi suatu kekuatan yang menghidupkan dan mengubah 
manusia. (Sastrapratedja: 1) 

D. PERIODISASI FILSAFAT INDIA 

Perkembangan filsafat India biasanya dibagi dalam lima kurun sebagai 
berikut: 

1 . Kurun Veda (2000 - 600) 

2. Kurun Reaksi (600 - 300) 

3. Kurun Purana (300 - 1200) 

4. Kurun Islam (1200 - 1757) 

5. Kurun Modern (1757 - 1968) 

1. Kurun Veda (2000 - 600 Masehi) 

Veda adalah tradisi sastra yang merupakan hasil perjumpaan antara 
kebudayaan bangsa Arya yang berbahasa Indo-Eropa dan kebudayaan Dravida. 
Veda dinyanyikan, diucapkan, dan ditulis dalam bahasa Vedik, yakni bahasa 
kuno Indo-Arya. Vedik merupakan induk dari bahasa Sansekerta. 

Veda terdiri dari empat kumpulan (sainhita) yakni: 

a. Rg Veda: kumpulan puji-pujian yang diresitasi 

b. Sama Veda: kumpulan himne yang dinyanyikan 

c. Yaajur Veda: kumpulan rumusan-rumusan untuk kurban 

d. Atharva Veda: kumpulan rumusan-rumusan magis. 

Di masa ini, diwariskan pula tiga kitab lain yang penting kedudukannya 
dalam Hinduisme, yakni: 

a. Brahmana: kitab yang berisi spekulasi tentang kurban dan kedudukan imam- 
imam. 

b. Aranyaka: yakni naskah-naskah esoteris yang merupakan hasil refleksi kaum 
vanaprastha (penghuni hutan). Kitab ini menekankan arti batiniah dan 
simbolis dari kurban. 

c. Upanishad: ini merupakan kelanjutan dari Aranyaka. Jadi, merupakan 
penutup dari Veda. Terakhir secara kronologis maupun teleologis. Segala 
revelasi Hindu mencapai kesempurnaannya pada Upanishad. Itulah sebabnya 



27 



Upanishad sering disebut juga Vedanta (akhir atau pemenuhan Veda, baik 
secara temporal maupun teleologis). 

Metode dalam Upanishad adalah introspektif, dengan titik tolak pengalaman 
berpikir manusia dan fakta kesadaran manusia. Tema pokok Upanishad adalah 
hakekat keakuan dan hubungannya dengan kesadaran. 

Tuhan, dalam Upanishad dilukiskan sebagai penguasa batin yang tak dapat 
mati atau sebagai benang yang melewati segala benda dan mengikat mereka 
bersama. Dialah kebenaran sentral dari eksistensi bernyawa dan tidak bernyawa, 
dan karenanya Dia tidak hanya transenden tapi juga imanen. Dialah pencipta 
dunia, tetapi ia memunculkan dunia itu dari dirinya sendiri sebagai labah-labah 
membuat jaringan sarangnya. (Sastrapratedja: 5-6) 

Upanishad bukan semata-mata hasil dari para Brahmana, tetapi sudah 
dipengaruhi oleh unsur luar Brahmana. Ajaran dalam Upanishad tak boleh 
disampaikan kepada sembarang orang, kecuali orang Arya dan mereka yang 
telah maju di bidang agama. 

2. Kurun Reaksi (600 SM - 300) 

Pada abad 7 dan abad 5 Sebelum Masehi, kehidupan intelektual dan 
spiritual dunia berkembang. Di Yunani, muncul filsuf-filsuf alam. Di Palestina 
muncul para nabi. Di Cina tampil Confusius, dan di Persia, muncul tokoh 
Zarathustra. Di India, muncul pemikir-pemikir Upanishad dan pengajar-pengajar 
yang kurang ortodoks. Muncullah Jainisme dan Budhisme yang memberikan 
ajaran dan aturan baru untuk mencapai keselamatan. 

Pada kurun waktu itu struktur masyarakat lama mengalami keguncangan. 
Muncul sejumlah kerajaan kecil. Ada semacam rasa pesimisme di bidang 
kebudayaan dan keagamaan. Masih ada perbedaan pandangan di kalangan ahli 
tentang latar belakang ketidakpuasan dan disintegrasi dalam masyarakat. Tapi 
salah satu alasannya, adalah meluasnya ajaran tentang inkarnasi sehingga orang 
ingin melepaskan diri dari lingkaran kelahiran kembali. 

Pendiri Budhisme adalah Sidharta Gautama (558-478). Dia berasal dari 
keluarga Shakya. Kitab Suci atau kanon Budhisme dinamakan Tripitaka, yang 
terdiri atas sutra (kumpulan khotbah Buddha), vinaya (undang-undang untuk 
para muni dan upasaka), dan abhidharma (metafisik dan psikologi). 

3. Kurun Purana Darsana (300 - 1200) 

Pada masa ini muncul pemikiran-pemikiran filosofis. Filsafat India menjadi 
sadar diri. Logika dan epistemologi muncul sebagai bagian dari filsafat. Ciri 



28 



pertumbuhan baru ini, antara lain disebabkan oleh Jainisme dan Budhisme. 

Hampir semua sistem filsafat mencurahkan perhatian pada apa yang 
dinamakan pramana. Praman berarti cara-cara esensial untuk mencapai 
pengetahuan yang sah (prama). Obyek yang diketahui disebut prameya, 
sedangkan orang yang mengetahui dinamakan pramata. 

Hasil yang dicapai pramana adalah darsana, yang secara harafiah berarti 
penglihatan atau point ofview. Jadi, cita-cita filsafat India adalah visi langsung 
dari kebenaran terakhir. Filsafat diharapkan menjadi pengalaman langsung. Kata 
darsana juga berarti pendapat filosofis. 

4. Kurun Islam (1200 - 1757) 

Tokoh yang cukup menonjol dalam periode ini ialah Kabir dan Guru Nanak. 
Kabir mencoba untuk mengembangkan suatu agama universal, sedangkan Guru 
Nanak adalah pendiri aliran Sikh, yang berusaha menyerasikan Islam dan 
Hiduisme. 

5. KURUN MODERN (1757 - 1968) 

Dalam periode ini terlihat kecenderungan untuk menghidupkan kembali 
nilai-nilai klasik India, bersamaan dengan berbagai pembaruan sosial-politik. 
Tokoh-tokoh penting dalam periode ini antara lain Raja Ram Mohan Roy (1772- 
1833), Vivekanda (1863-1902), Gandhi (1869-1948), Rabindranath Tagore 
(1861-1941), Radhakrishnan (1888-1975). 

Roy mengajar monoteisme berdasarkan Upanishad dan moral berdasarkan 
Khotbah di Bukit dari Injil. Vivekanda mengajarkan bahwa semua agama benar, 
tapi agama yang cocok untuk India adalah Hindu. 

E. BEBERAPA ALIRAN FILSAFAT 

Ada banyak aliran filsafat yang muncul di India. Di bawah ini diuraikan 
hanya beberapa aliran terpenting, yakni Carvaka, Jainisme, Budhisme, Nyaya 
dan Vaisesika, Sankhya dan Yoga, Purva Mimamsa, Uttara Mimamsa, Pasupata, 
S akta dan Pancaratra. 

1. Carvaka 

Carvaka didirikan oleh Brhaspati. Cirinya: materialistis hedonistis. Aliran 
ini tidak menerima kehidupan sesudah kematian (kehidupan sesudah kehidupan 



29 



di dunia ini). Alasannya: kehidupan di dunia akhirat tak dapat diverifikasi, 
apalagi belum ada seorangpun yang menyaksikannya. Jadi, aliran ini hanya 
mengakui eksistensi duniawi, dan menolak kebakaan jiwa. 

Etika aliran ini bersifat hedonistis. Menurut aliran ini, manusia boleh 
melakukan apa saja, karena tidak ada hukum yang mengikat. Jadi, mereka 
menolak konsep hukum karma dan kelahiran kembali yang terdapat pada sistem 
filsafat India yang lain. 

Dalam Kamasutra disebutkan dengan bahasa yang lebih halus: "Sejauh 
hukum moral mengenai sesuatu, sejauh itu pula harus kita taati, jika bukan 
demi kebahagiaan hidup mendatang, sekurang-kurangnya untuk membuat hidup 
masa kini mudah dan terhormat." 

Carvaka mengajarkan bahwa satu-satunya realitas adalah materi, yang terdiri 
dari empat unsur yakni tanah, air, udara, dan api. 

Aliran ini hanya menerima pengetahuan berdasarkan persepsi langsung. 
Mereka menolak induksi dan deduksi. Mereka menolak deduksi karena, menurut 
mereka, kebenaran sudah terkandung dalam premisnya. Mereka juga menolak 
kesaksian verbal karena potensial terhadap misinterpretasi, penyimpangan dan 
kebohongan. 

2. Jainisme 

Filsafat Jainisme menolak seluruh otoritas Veda. Setiap pendapat adalah 
sah. Bukan berarti mereka tidak mengakui adanya kontradiksi-kontradiksi, tetapi 
mereka melihat adanya kompleksitas realitas. 

Perbedaan pendapat terjadi karena perbedaan titik tolak yang digunakan 
orang, atau keterbatasan penemuan pada satu aspek realitas saja. Oleh sebab itu 
jainisme berpendapat bahwa tidak mungkin ada pengetahuan absolut. 
Pengetahuan dinyatakan sah hanya dalam hubungannya dengan titik tolak yang 
digunakan. Oleh sebab itu pendekatan yang benar adalah menerima keabsahan 
sebagai suatu yang relatif. 

Jainisme mengenal tujuh titik tolak dalam memandang realitas, yakni 

a. Ada 

b. Tiada 

c. Tak dapat dilukiskan 

d. Ada dan tak dapat dilukiskan 

e. Tiada dan tak dapat dilukiskan 

f. Ada dan tiada 

g. Ada, tiada, dan tak dapat dilukiskan. 



30 



Ada lima macam pengetahuan, yakni: 

a. Mati (pengetahuan sehari-hari), meliputi ingatan, pemahaman, dan induksi. 

b. Sruti: pengetahuan yang diturunkan dari tanda-tanda, simbol, kata. 

c. Avadhi: pengetahuan langsung atas benda-benda. 

d. Manahparyaya: pengetahuan langsung akan apa yang dipikirkan orang 

e. Kevala: pengetahuan sempurna 

Menurut jainisme, hakikat diri atau jiwa adalah kesadaran. Tujuan tertinggi 
adalah realisasi kondisi murni, mengembalikan jiwa kepada hakikatnya, yakni 
pengetahuan tak terbatas (anantajnana), persepsi tidak terbatas (ananta darsana), 
kekuatan tidak terbatas (ananta virya), dan kebahagiaan tidak terbatas (ananta 
virya). 

Ada banyak jiwa dan banyak bentuknya. Kalau jiwa bebas, ia mencapai 
status murninya. Tapi ini bisa dicapai dengan disiplin rohani yang keras, 
memutuskan hubungan dengan dunia, yang merupakan partikel-partikel yang 
mengelilingi jiwa. 

Jiwa memiliki keutamaan-keutamaan, yaitu ahimsa (tanpa kekerasan), 
menghargai hidup, harta dan benda, bicara yang benar, tidak mencuri, kemurnian, 
dan ketidaklekatan pada hal-hal duniawi. 

Substansi adalah penggabungan atom-atom yang tak berukuran, dalam 
formasi yang berbeda-beda. Atom-atom itu masing-masing sudah memiliki 
prinsip penginderaan (sentuhan, pengecap dan penciuman) dan warna. Dua 
atom dapat bergabung kalau ada perbedaan dalam kelembaban. Ajaran tentang 
kontak antaratom ini merupakan ajaran yang esensial (dalam Budhisme tidak 
dikenal). 

3. Budhisme 

Budhisme didirikan oleh Sidharta Gautama. Ia berasal dari keluarga Shakya, 
lahir sekitar tahun 558 dan meninggal tahun 478. Kitab suci atau kanon Budhisme 
adalah Tripitaka yang terdiri atas sutra (kumpulan khotbah Buddha), Vinaya 
(undang-undang untuk para muni dan upasaka), dan Abhidharma (metafisik 
dan psikologi). 

Salah satu ciri khas Budhisme adalah pesimisme. Inti ajarannya ialah bahwa 
segalanya duka (sarvam dukham). Penderitaan karena samsara adalah suatu 
yang riil dan oleh sebab itu manusia harus berusaha melepaskan diri dari 
kesengsaraan. Tapi bukan berarti bahwa Budhisme mengajarkan keputusasaan. 



31 



Budha mengajarkan empat kebenaran utama (empat aryasatyani) yakni: 

a. Hidup adalah sengsara (dukha) 

b. Penderitaan itu timbul karena keinginan (samudaya). Keinginan mencoba 
menggapai suatu hal dalam aliran air, seolah-olah itu merupakan suatu 
substansi. Bila kita tidak berusaha memperoleh sesuatu, tapi menyangkalnya, 
maka kita tak akan merasa sedih atau kecewa' dalam proses menjadi yang 
abadi. Bukan dunia, tapi kita sendiri menjadi sebab dari penderitaan, karena 
kepalsuan sikap kita terhadap dunia. 

c. Penderitaan dapat diakhiri dan dicapai nirvana di mana segala aliran 
kehidupan berakhir. Nirvana bukan sorga, bukan pula keadaan kemana kita 
masuk. Nirvana dicapai dengan menghentikan semua keinginan, sehingga 
tak ada proses baru lagi. Nirvana hanya dapat dilukiskan secara negatif. 

d. Hal ini hanya dapat terlaksana dengan perbuatan-perbuatan dan disiplin 
(marga), yang berpuncak pada konsentrasi dan meditasi. Jalan mencapai 
pembebasan ini ditunjukkan Budha dalam bentuk Delapan Jalan Pembebasan 
Manusia (Sastrapratedja: 7) 

Ada tiga tingkat penderitaan, yakni (1) penderitaan yang berkaitan dengan 
proses kehidupan (terutama kelahiran, sakit, usia tua, mati), (2) penderitaan 
sebagai akibat dari kesadaran akan adanya kesenjangan dan distansi antara apa 
yang kita inginkan dan apa yang diperoleh, serta kesadaran akan kesementaraan, 
dan (3) penderitaan sebagai akibat dari hakekat kondisi kemanusiaan. 

Semuanya ini mendorong Buddha untuk bertanya: apakah "diri" manusia 
yang menderita itu? Jawabannya: "ego" tidak ada. Tidak ada "aku" yang 
menderita. Hanya ada keseluruhan kompleks yang disebut manusia, yang berada 
dalam perubahan terus-menerus. Buddhisme berbicara tentang anatta (bukan 
aku). 

Tak ada suatu yang permanen yang dapat diselamatkan dalam proses 
pertumbuhan. Tidak ada jiwa dalam tubuh. Hanya satu hal permanen yakni 
nirvana. Jadi, ada penderitaan, tapi tak ada subyek yang menderita. Segala 
sesuatu mengalir. Tetapi ada suatu unsur, yakni orientasi rohani dalam diri 
manusia yang dapat membimbing aliran kehidupan itu sehingga dapat dihentikan. 
Disinilah Buddha menunjukkan jalan untuk mengakhiri penderitaan: mematahkan 
mata rantai sebab akibat. 

Sesudah Buddha wafat, Budhisme sudah berakar kuat di bagian timur 
Gangga. Para murid Budha kemudian mengadakan beberapa konsili. Konsili 
pertama berlangsung di Rajagrha, disusul konsili kedua di Vesali seratus tahun 
sesudahnya. Budhisme mencapai puncak kemegahannya di masa pemerintahan 



32 



Asoka. Konsili ketiga dilangsungkan di Pataliputra dalam masa pemerintahan 
Asoka. Dalam konsili ini terjadi perpecahan dan perbedaan pendapat, yang 
kemudian menghasilkan dua aliran Budhisme, yakni Hinayana (artinya kendaraan 
kecil) dan Mahayana (artinya kendaraan besar). 

Hinayana bertujuan mencapai penyelamatan individual, sedangkan Mahayana 
mencari penyelamatan orang lain. Pada aliran Mahayana, Buddha dihormati dan 
diperilahikan. Cita-cita hidup aliran Mahayana adalah menjadi Boddhisattva, 
yakni orang yang telah mencapai kesempurnaan, tapi menunda masuk nirvana 
demi keselamatan semua orang. 

Sesudah mangkatnya Raja Asoka, Budhisme tetap berkembang di bawah 
Kanishka. Sampai munculnya dinasti Gupta sekitar tahun 320 Masehi, 
Buddhisme tetap kokoh di India, tapi sesudahnya mengalami kemunduran. Sebab- 
sebabnya, antara lain bertambah kuatnya Hinduisme. Bahkan tradisi Hindu 
disatukan dengan Buddhisme, di mana Buddha dianggap sebagai inkarnasi dari 
dewa Wishnu. Juga, karena aktivitas misionaris Buddhisme diarahkan keluar 
India, misalnya ke Tibet, Mongolia, Tiongkok, Jawa, dan Jepang. (Sastrapratedja: 
11) 

4. Nyaya dan Vaisesika 

Kedua aliran ini memandang realitas dengan pandangan yang pluralistis. 
Mereka sangat mirip, dan sebab itu biasanya dibicarakan secara bersamaan. 

Nyaya dan Vaisesika mengajarkan tentang tujuh kategori, yakni: 

a. Substansi: ada sembilan substansi yakni tanah, air, api, udara, eter, waktu, 
ruang, jiwa, dan kesadaran. 

b. Kualitas 

c. Aktivitas 

d. Universal 

e. Partikular 

f. Inheren 

g. Negasi 

Tanah, air, udara, dan api bukan saja bersifat keras, lunak, lembut, dan 
sebagainya, tapi merupakan sebab khusus dari kelengkapan bau, rasa, warna, 
sentuhan, dan suara. 

Jiwa (atman) tidak terbatas, tapi tidak sadar. Keadaan itu tidak berubah 
setelah orang mencapai keselamatan. Mereka menerima Tuhan sebagai salah 
satu Atman. Jumlah Atman sangat banyak, dan bersifat abadi. Tuhan mampu 
mengontrol proses penciptaan dan penghancuran. 

33 



i*.y -■ ■■■:_ 






VW^SS^wt Wwj'k YwwvjfflAsask «fefps«ts,\ das\ Saktv TvjJm» C*Maex<jiL Tuhan.). 
Mereka menolak saksi sebagai kategori yang dipakai untuk memecahkan masalah 
monisme dan pluralisme. 

Nyaya dan Vaisesika mengajarkan bahwa keselamatan berarti kembali ke 
keadaan tidak sadar dari Atman, lepas dari kontak dengan dunia dan kembali 
kepada eksistensi buta, tidak sadar, kekosongan dari sengsara, dan bahkan kosong 
dari kebahagiaan dan kesenangan. 

5. Sankhya dan Yoga 

Perbedaan Sankhya dari Yoga adalah bahwa Sankhya menolak Tuhan 
(sekurang-kurangnya menganggap konsep Tuhan itu tidak relevan), sebaliknya 
Yoga menerimanya. Selebihnya, kedua aliran itu mempunyai kesamaan 
pandangan filosofis. 

Kategori fundamental dari kenyataan adalah Jiwa (purusa) dan materi 
(prakrti). Materi memiliki tiga kualitas (guna), yakni sattvas (fungsi kebaikan 
dan pikiran, sifatnya halus, ringan, cemerlang), rajas (fungsi aktivitas, sifatnya 
agresif), dan tamas (prinsip diam, pasivitas dan berperan utama dalam 
pembentukan materi). 

Penciptaan terjadi bila terjadi kontak antara Purusa dan Prakrti. Dalam 
kontak itu prakrti mengalami penyempurnaan. Dalam proses penciptaan, ketiga 
guna berlomba-lomba untuk saling mendominasi. Bila sattvas menang, maka 
prakrti berubah menjadi Mahat atau Budhi (Yang Besar). Transformasi prakrti 
ini (purinama) dilihat sebagai aktualisasi potensi, yakni dalam sebab. Ini disebut 
teori satkaryavada (existent effect) yang ditolak aliran Nyanya dan Vaisesika 
(dengan teori asatkaryavada: akibat belum sungguh-sungguh ada sebelum 
sungguh-sungguh bereksistensi). 

Transformasi itu memunculkan Mahat, lalu ke- Akuan (ego, ahamkara), akal 
budi (manas), kelima organ pancaindra, dan terakhir unsur-unsur subtil 
(tanmatras). Ego itu bukan subyek, melainkan acuan korelasi-korelasi antara 
organ pancaindra dengan obyek indra. Tubuh manusia adalah obyek kasar dari 
obyek kasar. 

Bila Purusa dan Prakrti pisah, maka Prakrti memperoleh keseimbangan 
kembali dan Purusa terbebaskan. Maka pembebasan berarti pencapaian suatu 
tingkat yang mengatasi alam (a level beyond nature), dan bukan transformasi 
hakikat alamiah pada yang sublim. 

Dalam penciptaan dunia (yang tidak lain merupakan evolusi Prakrti), tidak 
dibutuhkan pencipta di luar Purusa dan Prakrti. Konsep Tuhan tidak dikenal. 



34 



Yoga (dengan sistem filsafat Yogasutra dan Patanjali) membuat perobahan 
penting terhadap konsep Sankhya. Yoga menerima adanya unsur Purusa dan 
Prakrti seperti yang diajarkan Sankhya. Tapi Yoga menganggap perlu 
memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan dalam pencarian kesempurnaan. 

Menurut Yoga, Tuhan (Isvara) adalah tipe khusus dari Jiwa, tidak tersentuh 
oleh penderitaan, karma atau oleh hasil perbuatan dan kesan-kesan. Di dalam 
Tuhan terdapat pengetahuan tertinggi akan segala sesuatu. Tuhan adalah Guru 
dan tidak terbatas pada waktu. Tuhan dianggap sebagai Roh Maha Mulia dan 
Yang Maha Sempurna, dan sebab itu menjadi obyek penyembahan. 

6. Purva Mimamsa 

Purva Mimamsa didirikan oleh Jaimini. Pada mulanya Mimamsa bukan 
merupakan sistem filsafat, melainkan usaha untuk menjelaskan hakikat hukum, 
peraturan atau kewajiban (dharma), yang menurut sistem ini terdiri atas ketaatan 
terhadap perintah Veda dan larangan-larangannya. 

Veda mengajarkan orang untuk berkurban untuk kebahagiaan di dunia dan 
di akhirat. Lalu Mimamsa bertanya: bagaimana mungkin kurban bisa- 
mendatangkan kebahagiaan? Ini akhirnya membawa kepada hakikat diri, Tuhan 
dan perbuatan (karma). 

Penganut Mimamsa disebut Mimamsaka. Kelompok Mimamsaka terkenal 
adalah Kumarila dan Prabhakara, yang mengembangkan metafisika dan 
epistemologi sendiri. Prabhakara menerima delapan kategori yakni: substansi, 
kualitas, perbuatan atau aksi, universal, inheren, energi (sakti), persamaan, dan 
jumlah. 

Hakikat diri adalah kesadaran, bukan kebahagiaan. Upacara kurban dianggap 
sebagai sarana untuk mencapai keselamatan. Karma (perbuatan, termasuk 
penyelenggaraan kurban) merupakan daya yang tak kelihatan, apurva, umum 
yang membawa orang kepada keselamatan. 

Konsep tentang Tuhan justru berasal dari konsep tentang karma sebagai 
penjamin keselamatan. Tuhan dilihat sebagai penjaga prinsip karma. Tuhan 
adalah prinsip karma, hukum atau peraturan, yang isinya termuat dalam Veda. 
Tekanan pada Veda ini terpusat pada bagian pertama Veda, yakni mantra- 
mantra dan Brahmana. Inilah yang membedakannya dari Uttara Mimamsa. Purva 
Mimamsa mendasarkan diri pada Veda, sebaliknya Uttara Mimamsa 
mendasarkan diri pada Upanishad. 



35 



7. Uttara Mimamsa (Vedanta) 

Ada banyak sistem Vedanta, dan bersifat realis, idealis, monistis, atau 
pluralis. Tiga sistem yang terkenal adalah Sankara, Ramanuja, dan Madhva. 
Semuanya menerima Brahman sebagai realitas tertinggi. Brahman harus 
direalisasi sebagai jiwanya sendiri, yaitu Yang Absolut dalam diri kita. Usaha 
ini dilakukan dengan orientasi ke dalam. 

a. Sankara: adalah sistem nondualistis. Menurut Sankara, Atman sama dengan 
Brahman, yakni esensi subyektivitas yang bersatu dengan esensi dunia. 
Dunia seluruhnya tergantung pada Brahman, tapi Brahman tidak tergantung 
pada dunia. 

Brahman adalah dasar seluruh pengalaman. Ia tidak sama dengan dunia, 
tidak berbeda dengan dunia, tidak empiris, tidak obyektif, bukan tidak ada, 
sangat berbeda dengan yang lain. 

Moksa atau pembebasan diri dicapai dengan praktik devosi dan 
mewujudkan nilai-nilai etis. Ini dicapai selama orang hidup di dunia. 

b. Ramanuja: menekankan perbedaan dalam nondualisme Sankara. Dunia 
Diri, Tuhan (Brahman) itu riil, tapi dunia dan diri tergantung pada Brah- 
man. Diri memiliki eksistensi abadi. Dunia atau materi, diri dan Tuhan 
membentuk satu kesatuan, tapi diri dan dunia hanya sebagai tubuh Brah- 
man. Di luar Brahman tidak ada apa-apa. Itulah sebabnya teori Ramanuja 
disebut nondualisme dengan perbedaan, yaitu satu Brahman memiliki dua 
bentuk: Diri dan Materi. 

Keselamatan bukan penghanyutan diri dalam Brahman, melainkan 
pembebasan diri dari hambatan-hambatan. Setinggi apapun manusia 
merealisasikan diri, Tuhan masih lebih tinggi. Manusia harus selalu 
menghormati Tuhan. Itulah sebabnya, Ramanuja menekankan aspek 
kebaktian kepada Tuhan. 

c. Madhava: bersifat dualistis. Dunia, diri, dan Brahman merupakan eksistensi 
abadi, tapi dunia dan diri itu tergantung pada Brahman. Brahman memiliki 
segala kesempurnaan dan digambarkan sebagai Visnu. 

Aliran ini mengajarkan bahwa individu dan alam adalah realitas 
independen. Timbul persoalan: bagaimana Brahman mengontrolnya? 
Jawaban: dengan konsep Sakti (energi Brahman). Diri-diri individu dan 
alam, meskipun independen, merupakan ekspresi atau manifestasi dari Sakti 
Brahman. 

d. Pasupata, Sakta, dan Pancaratra: ketiganya merupakan sekte yang 
berlawanan dengan Veda. Dalam sistem Pancaratra, Visnu sama dengan 
Brahman, tapi atribut-atributnya tak dapat menampakkan diri tanpa Sakti 



36 



yang dinamakan Laksmi. Sakti ini memiliki dua aspek, yaitu aktivitas dan 
menjadi (activity and becoming). 

Bila Sakti itu aktif, keenam atribut Visnu memanifestasikan diri dalam 
pengetahuan, ke-Tuhanan, kemampuan, kekuatan, keperkasaan dan 
kemuliaan. 

Dalam sistem Pasupata (Saiva). Saiva sama dengan Brahman dalam 
Upanishad. Hakikatnya adalah "Aku murni", tanpa atribut, tanpa keterangan, 
kesadaran murni. (Sandi wan: 29-44) 



F. KONSEP KESELAMATAN DALAM HINDUISME 

Kalau filsafat India berusaha menjelaskan eksistensi dan hakikat kenyataan 
terakhir, maka Hinduisme berusaha menemukan jalan bagi manusia yang kurang 
sempurna untuk bersatu dengan kenyataan terakhir. Hinduisme mengikuti jalan 
spiritual guna mencapai keselamatan. Hinduisme adalah religi yang diresapi 
oleh pengalaman-pengalaman mistik yang mendalam. Orang Hindu tidak berhenti 
dalam mencari kebenaran, tapi berusaha merealisasikannya dalam pengalamannya 
sendiri. 

Pembebasan (moksa atau mukti) dalam Hinduisme adalah pembebasan dari 
kondisi manusiawi, yaitu pembebasan dari perbuatan (karma) dalam segala 
bentuknya — perbuatan baik atau buruk. Dengan pembebasan itu manusia 
sampai pada suatu keadaan yang mengatasi ruang dan waktu, di mana segalanya 
nampak menyatu. 

Kitab Suci Hindu mengajarkan terikatnya manusia pada eksistensi fenomenal 
sbb: kelahiran kembali (samsara) adalah konsekuensi dari perbuatan (karma). 
Perbuatan muncul dari keinginan-keinginan (kama). Keinginan disebabkan oleh 
egoisme (ahamkara). Jadi, manusia menjadi permainan keinginan-keinginan dan 
egoisme karena ketidaktahuan (avidya) akan hakekat sebenarnya dari realitas. 
Keselamatan harus dicapai dengan menyingkirkan segala hambatan tersebut. 

Dalam Upanishad, pembebasan bersifat nondualistik, berarti tenggelam 
dalam Brahman, prinsip tertinggi, seperti sungai masuk ke dalam lautan. Dengan 
demikian manusia bebas dari kehidupan fenomenal dan beralih kepada cara 
berada yang tak terbatas, yakni bersatu dengan Brahman. Samkhya dan Yoga 
membatasi pembebasan sebagai kaivalyam, berarti pembebasan jiwa individual 
ke dalam esensinya yang abadi. (Sastrapratedja: 25) 



37 



Hinduisme mengajarkan tiga jalan pembebasan, yakni karma-marga, jnana, 
dan bhakti. Berikut diuraikan secara singkat. 

a. Karma-marga: artinya askese, ketaatan kepada aturan-aturan agama. Askese 
Brahmanik pada mulanya terdiri dari kurban-kurban dan upacara. Pelaksana 
kurban menghubungkan kekuatan-kekuatan surgawi dengan persembahan 
atau konsentrasi mental. Sesudah mandi secara ritual imam melakukan 
pantang, bersemadi dalam kegelapan di antara api-api suci, dan 
berkomunikasi dengan dewa-dewa. Tapas (askese batin) bertujuan untuk 
mencapai kesatuan dengan alam dewa-dewa. 

Bhagavadgita mengajarkan bahwa tindakan itu sendiri tidak 
membelenggu manusia, tapi kelekatan kepada tindakan dan hasil perbuatan 
itulah yang membelenggu. Bila suatu tindakan dilakukan tanpa rasa lekat 
sama sekali, maka tindakan itu tidak mengikat orang pada dunia. Tindakan 
yang benar akan membawa orang kepada ketidaklekatan (detachment). 
Dan rasa tidak lekat membawa orang kepada tahap spiritualitas yang lebih 
tinggi, dan dengan demikian menuju pembebasan. 

b. Jnana: artinya mistisisme pengetahuan. Misalnya, dalam Yogasutra dari 
Patanjali, kebaktian kepada Allah bersama dengan disiplin badaniah dan 
ucapan-ucapan doa dianggap sebagai langkah efektif menuju pembebasan 
terakhir, yakni pemisahan sempurna diri manusia individual dari semua 
yang bukan merupakan dirinya sejati. 

Mistisisme advaita menganjurkan metode mistik lain: pengetahuan 
transendental tentang diri batiniah manusia (atman). Pengetahuan diri adalah 
visi diri sendiri, suatu kesadaran akan identitas dengan Brahman dalam 
pengertian intuisi mistik. Kesadaran ini tak dapat diproduksi, tak dapat 
dipikirkan, karena bukan suatu kerja. 

c. Bhakti: merupakan mistisisme cinta kasih. Bhakti adalah cinta anaugerah 
Tuhan kepada seorang religius dalam penyerahan diri total. Ini tercetus 
dalam kebaktian penuh cinta kepada seorang guru dimana Allah hadir dan 
kepada Allah sendiri. Ini mencakup partisipasi afektif dari orang yang 
berbakti kepada yang ilahi. (Sastrapratedja: 25-26) 



38